Friday, January 31, 2014

Sajak 1/2 Malam














"Tak ada lagi yang perlu kamu lakukan
  Cukup pejamkan kedua bola mata indah mu
  Dan tertidurlah dalam lelapmu
  Sudah cukup lelah yang kau rasakan hari ini
  Biarkanlah rajutan mimpi mimpi indah mu
  Membelai mu malam ini"
Sesederhana  ucapan itu,
Seindah lukisan langit di 1/2 malam ini,
Membentang diantara kerlip bintang 
Kau hadir di 1/2 malam ini,
Menggetarkan raga yang sedang letih ,,
Yang merangkak dari penatnya hari...

Seraya melipur lara hati yang sedang kalut...
Dari endapan rasa gundah ku ....

Di 1/2 malam ini, 

Kau kirim secercah harapan
Lewat untaian kalimat bermakna...
Di 1/2 malam ini,,
Ku nanti hadirmu lewat mimpi,,,


*) Terinspirasi dari seseorang yang lebih berarti dari tulisan ini
|  Story of A Little Pen


Karena Tulisan, Aku Menulis

Aku suka kata kata itu ..
Kata kata yang tersusun rapi ...
Kata kata yang menguntai sederet makna ..
Aku suka kata kata itu ...
Ada yang tersirat didalamnya.

Aku suka tulisan itu...
Kadang bercerita tentang cinta...
Kadang iya buat ku tersenyum lewati malam, 
Aku suka tulisan itu,
Seakan ia tertawa bersamaku...

Kamu,, 
Iya kamu si penulis itu..
Aku bisa mengenali mu..
Lewat susunan kata yang kau untai
Kamu pasti seindah tulisan itu..

Hei, kamu...
Biarkan aku jadi pengagummu...
Biarkan ku resapi kata demi kata ..
Menyingkap rasa yang kau selipkan didalamnya..
Sampai habis malam malam ku...

Aku suka tulisan itu ...
Begitu indah kata katanya...
Karena nya aku pun menulis,
Ku untai kata demi kata ...
Ku gambarkan kekagumanku atasnya...

Aku benar benar suka tulisan itu ...
Dan karena tulisan itu, aku menulis ..

*) Thursday 30th January 2014, Story of A Little Pen



Thursday, January 30, 2014

Gadis Manis Pencuri Hati Part II


Masih Malu Tapi Mau ...
Siang ini, setelah memindahkan jadwal perkuliahan dari papan pengumuman, aku duduk bersandar di deretan bangku panjang berwarna biru tua di lobi jurusan. Tiba tiba saja aku mendengar bunyi "tiitt...tiitt tiitt..tiitt.." diikuti dengan getaran. Aku mencoba merogoh saku celana depan ku mencoba mecari sumber suara itu. Benar saja, aku menerima sebuah pesan singkat, isinya pun cukup singkat, "kak, aku lagi istrahat. Kk lagi dimana ?". Ternyata itu pesan dari Tika, begitu aku memanggilnya, si gadis misterius itu.

Tanpa me-replay pesan singkat darinya, aku langsung melangkah menapaki anak tangga menuju lantai 3 tempat dia dikumpulkan bersama dengan mahasiswa baru lainnya. Dari kejauhan, menembus kaca bening dari pintu ruangan, aku sudah dapat mengenali parasnya begitu jelas. Meskipun dari sekumpulan orang yang ada disitu semuanya bereseragam hitam putih. Ku terus berjalan mendekati pintu kaca itu, lama ku pandangi dari arah belakang, menunggu dia berbalik dan melontarkan senyum manis itu lagi. Setelah beberapa waktu berdiri di antara wajah wajah lugu berseragam hitam putih itu, kusadari bahwa dia begitu asik bercengkrama, mungkin dengan orang yang baru saja dia kenal. Entah harus berbuat apa, karena dirikupun masih ragu untuk memulai lebih cepat hari ini.

Aku pulang lebih awal siang ini, berhubung dosen mata kuliah ku tidak sempat hadir. Entah mengapa sesaat perasaan ku mulai gelisah, seakan ada rasa yang kuat mendorongku dari dalam bahwa siang ini sebelum pulang aku harus menemuinya. Aku pun tidak begitu paham, ku hanya bergerak, berjalan menuruti nuraniku, berjalan lagi, menapaki anak tangga satu persatu, dan akhirnya langkahku kembali terhenti tepat di depan sepasang pintu kaca itu. Di sana ku coba memberi nya petunjuk jika aku harus bertemu dia.  Kukirim sebuah pesan singkat, dan sesaat kemudian dia berbalik membalasnya dengan sebuah senyum kecil merekah diantara kedua pipinya. Sadar atau tidak, rasanya seakan ada sesuatu yang menahan ku berlama di balik pintu itu, namun sayang ku harus segera berbalik arah dan menuju persinggahan berikutnya, Rumahku.


Duniapun Berlukiskan Wajahnya
Siang ini begitu cepat berganti jadi senja yang rupawan, berlukiskan warna kemerahan dan garis garis orange di sekitarnya. Senja yang sudah siap menjemput malam yang mungkin akan terasa panjang dari malam malam sebelumnya. Sembari terhanyut dalam keindahan yang menawan itu, sebuah suara deringan menarik perhatian ku untuk segera beranjak menuju ke ruang tengah. Ku dapati sebuah pesan singkat, tak salah tafsiranku, ku tahu benar itu sebuah pesan dari Tika. Sudah menjadi kebiasaannya mengingatkan ku untuk melakukan shalat maghrib. Ku letakkan lagi benda mungil itu dan bersegera mengambil air wudhu menunaikan kewajibanku sore itu.

Selepas maghrib, malam pun menjemput dengan lukisan cakrawala langit yang begitu menawan dengan bintang bintangnya. Ku pandangi lebih dalam di keindahan itu, mencoba melukiskan kembali senyuman yang tadi ku nikmati di sepasang bibir mungil gadis itu. Perlahan demi perlahan kian membentuk wajahnya yang manis bak bunga mekar di musim semi. Kini tergambar utuh lukisan wajah nya di kanvas langit malamku, hingga akhirnya semua membuyar ketika, "tiitt... tiitt, tiitt...tiitt". Ku dengar lagi suara itu dari ruang tengah, Dengan sigap ku mencari dan lagi lagi menemukan pesan singkat dari seseorang yang baru saja aku lamunkan. "Malam kak, kakak lagi ngapain ?". Seperti biasa ku hanya membalas singkat seperti apa yang dia tanyakan. Sepertinya memang malam ini akan terasa panjang gumamku dalam hati. Benar saja malam ini ku ber SMSan ria dengan Tika. Ku mulai memupuk kedekatan dengan nya, lewat cerita, canda gurau, bahkan beberapa pembahasan tentang kuliah. 

Awal Bahagia di Penghujung September
Tidak begitu terasa waktu yang kian cepat berlalu, seakan baru kemarin aku kenal dengan Tika. Hari ini, kamis 29 september,aku sudah membuat janji dengannya di sebuah warkop kecil di tepian jalan, tidak begitu jauh dari kampus. Selepas kuliah pertama, ku coba menghubungi nomer handphonenya. Berkali kali ku coba menelvon, mengiriminya sms namun tak ada satupun dapat balasan darinya. Ku putuskan untuk menunggu sejenak di sebuah bangku kosong di sudut gedung, tepat di bawah rindangnya pohon jambu. Ku coba menebak nebak ada apa gerangan. Marahkah dia ? Sepanjang ingatan ku, aku tak pernah berbuat salah sampai pagi tadi. Sesaat kemudian, telepon seluler di saku celana ku pun berdering, ku dapati sebuah pesan singkat darinya, "Maaf kak, Tika baru selesai kuliah". Akhirnya senyum tipis merekah di wajahku melunturkan resah yang baru saja menyerangku.

Tanpa basa basi ku mereplay isi pesannya bahwa aku menunggunya. Sesaat kemudian, terlihat wajahnya yang periang itu berjalan melintasi pelataran kampus. Ingin rasanya ku berjalan menghampirinya, namun sayang, rasa itu  berbentur rasa malu yang sepertinya masih terlalu besar untuk aku taklukan. Ku hanya duduk terdiam, menanti dirinya mendekat dan menghampiriku. Sesaat kemudian Tika sudah berdiri tepat di depanku, dia mengucap sepatah kata pamit dengan teman - temannya. Ku memulai percakapan dengan sebuah pertanyaan kecil, " Gimana kuliahnya tadi dek ?". Sembari melempar senyum nya yang manis itu ia memberi jawaban, " Alhamdulillah lancar kak". 

Percakapan ku dengan Tika terus berlanjut sampai kami berdua tiba di warkop kecil di dekat kampus. Setelah mempersilahkannya duduk, aku berjalanan menuju meja kasir, memesan minum dan cemilan. Perbincangan ku masih terus berlanjut, menyelipkan cerita yang baru saja terlewat kemarin sampai pagi tadi. Aku mulai mengarahkan fikiranku untuk menyatakan kata kata yang dari semalam sudah ku persiapkan dengan baik. Ku hanya tinggal menunggu momen yang tepat untuk memulai. Ku terus memperhatikan bibir manis Tika yang masih saja bercerita dengan riangnya. Perlahan degup jantung ku mulai bertambah cepat. Debarannya makin kencang, seiring rasa cemas yang mulai menggerogoti fikiranku. Kapan aku harus memotong pembicaraan dan memulai kata- kataku. 

"Tika", dia masih saja bercerita ketika aku mengucapkan namanya. "Iya kak", jawab Tika pelan. "Ada yang ingin kakak tanyakan ke Tika, boleh ngak ?". "Apa itu kak? Nanya aja ."dengan ekspresi wajah nya yang sedikit mulai penasaran. "hmm, apa yah, saya sama kamu kan udah lama berkenalan, udah berjalan sebulan lebih. Sejujurnya, saya udah nyimpan perasaan yang spesial selama ini saya dekat sama Tika. Klo Tika sendiri, sejauh ini perasaan nya gimana ?" jawabku terengah engah dengan intonasi yang lebih cepat dari nada biasanya. "Yah nyaman aja kak, seneng aja ada yang merhatiin Tika, ada yang nasehatin dan semangatin Tika kalau lagi punya masalah" jawabnya begitu santai. Sekonyong konyong aku merasa kalah dengannya yang lebih bisa menguasai rasa gugupnya berhadapan dengan orang yang dia sukai. "Syukurlah dek" tiba tiba saja lidahku beku, kaku untuk mengungkapkan sepatah kata istimewah itu di hadapan Tika."Loh, kok syukur kak ?" jawab Tika dengan nada keheranan. Dari kata katanya barusan dengan ekspresi wajahnya, aku paham betul jika bukan kata kata  itu yang dia harapkan terlontar dari mulutku. Ku coba menekan batinku, melawan kuat nya rasa gugup di lidahku, ku beranikan diri dan ...
Tika, kamu mau ngak jadi pacar kakak ? ucap ku pelan. Dengan nada bercanda Tika mencoba membalas, "Maaf kak, kakak bilang apa barusan ? Tika kurang jelas kak. "Ekhmm,, aku bilang kamu mau ngak jadi pacar kakak ? timpalku dengan nada yang sedikit keras." Klo jawabnya ngak sekarang boleh kan kak ? Tika mau fikir fikir dulu soalnya." timpalnya lagi dengan nada serius. "Ya udah, aku kasih kamu waktu sampai besok yah. Ngak pake lama, soalnya kakak malas nunggu. Sukanya yang pasti pasti aja", jawabku dengan nada sedikit kecewa. Senyum indah sekali lagi merekah di wajah manisnya itu, "ahh.. kakak serius begitu. Tika cuman bercanda. Iya aku mau kok jadi pacar kakak. Kan Tika udah sayang sama kakak." jawabnya begitu pelan mengakhiri perdebatan panjang ini. 

Kini semua berawal dengan cerita baru lagi, masih dengan pemeran yang sama namun alur dan skenario yang mungkin jauh berbeda. Hari ini ada cinta yang terselip, untuk perjalanan panjang dan tulisan kisah ku berikutnya dengan Tika. Harapan harapan pun mulai diukir satu persatu, layaknya narasi cinta Snow White And The Prince. Berharap semua berakhir bahagia, dengan cinta dan kasih sayang yang tulus di dalamnya.


***  TAMAT ***



*) wrote according to the true story

 Makassar, 30 January 2014, Gadis Manis Pencuri Hati, Story of A Little Pen

Wednesday, January 29, 2014

Tuhan, Salahku Melupakan - Mu

Dalam diamku Tuhan, hanya ada sesal ...
Meski terkadang ku tahankan air mata ...
Dalam keheningan ya Tuhan ...
Apa masih bisa ku menemukan ketenangan...
Di sudut yang paling sepi pun...
Ku masih tetap di rundung gelisah ...

Dalam diamku Tuhan, bathinku tak tenang...

Tak tentu arah dan berpaling kemana ...
Mungkin kah ku masih bisa kembali ...
Sedang cahaya pemberian-Mu mulai redup ....
Terangnya perlahan kian memudar...
Buat ku semakin terpaku dalam hitam pekat...
Merambah resah yang begitu dalam ...

Masikah aku mampu berpaling...

Menghempas semua kebatilan ini ...
Terjaga dari larut mimpiku di dunia fana ini ...
Dan jika nanti  tiba masaku harus berakhir ...
Masikah ada jalan untuk ku kembali ...

Tuhan, salahku melupakan Mu ..

Diperbudak waktu dalam kebatilan ...
Berjalan menapaki duri yang nampak indah...
Melangkah seakan waktu itu tak akan habis ...

Dan ketika semua harus berakhir ... Tuhan

Masikah ada waktu untuk ku ...
Memerangi diri dari semua kekhilafan ....
Bersembah sujud dalam khusuknya ibadahku ...
Melantunkan nada indah dari tulisan firman- Mu ...

Tuhan, ku menunduk menengadah ...

Dalam diam ini ku meminta...
Bukakan jalan menuju taubat ku ...
Aku hanya ingin pulang ....

Tuhan, khilafku melupakan Mu

Tuhan, ampunkan aku

















*) Wednesday 29th  January 2014, Story of A Little Pen

Gadis Manis Pencuri Hati Part I


Semester Baru, Gaya Baru
Hari ini adalah hari penyambutan mahasiswa baru di fakultas tempat saya kuliah. Hari pertama buatku di semester yang baru ini. Begitu cepat rasanya libur akhir semester kali ini, hmmm belum puas rasanya diriku bermanja bersama keluarga dan teman teman ku. Hari ini pagi pagi sekali aku berangkat ke kampus, baru saja jam dinding di kamarku menunjuk pukul 7.00 dan aku sudah rapi berpakaian ala mahasiswa senior tingkat dua. Tak seperti biasanya, pemandangan kampus yang ku dapati pagi ini begitu beda, apa mungkin karna aku sudah naik tingkat atau karna aku sudah menjadi seorang kakak senior. Iyya, aku baru tersadar kalau saja pagi ini penampilanku memang betul betul berbeda, pakaian putih hitam yang kukenakan sejak setahun terakhir kemarin kini sudah ku tanggalkan. Semua sepertinya terlihat beda bagiku kali ini. Bahkan cara jalan ku pun didepan kakak kakak senior yang berjejer di pelataran kampus tidak lagi tertunduk malu malu, aku dengan tegap berjalan melewati mereka, sebagian dari mereka cukup ku kenali bahkan begitu dekat.

Pelataran kampus begitu mirip papan catur dipenuhi puluhan manusia berseragam hitam putih. Ku berhenti di sebuah gazebo yang masih tak berpenghuni. Duduk disana menyaksikan kelucuan dan keluguan para mahasiswa baru itu di bully oleh kakak kakak senior. Sembari terhanyut dalam pemandangan itu, tiba tiba saja ku teringat dengan pesan singkat yang dikirim oleh seorang gadis yang tak begitu aku kenal. "Kak, besok datang kan kek kampus ? Aku mau ketemu sama kakak". Dengan sigap ku merogoh handphone di saku celana depan ku. Ku coba mebuka menu pesan dan mecari cari isi pesan semalam, begitu ku dapati, dengan sontak nya ku menekan tombol reply. Sejenak ku terdiam, tak terfikirkan apa yang hendak ku katakan. Setelah lama mempertimbangkan, ku hanya menulis beberapa kata. "Dek, kakak sudah di kampus.Kalo PMB nya sudah selesai sms kakak yah :) "

Karna Dunia Maya pun Bisa Jadi Nyata
Iya, dia memang seorang gadis yang tak begitu aku kenali. Pertemuan ku dengan nya baru sekali. Bahkan bisa terbilang singkat. Awal ku berkenalan dengan nya itu dari sebuah jejaring social, Facebook. Beberapa minggu yang lalu di saat liburan ku, ku membuka akun facebook ku. Tidak ada status spesial yang ter - update hari itu. Hanya beberapa pemberitahuan dan sebuah permintaan teman. Tanpa ada rasa penasaran sedikitpun ku mengarahkan pointer mouse komputer ku kemudian mengklik tulisan itu. "Cantika Purnama menambahkan anda sebagai teman". Tidak seperti biasanya, jika mendapati permintaan teman aku langsung membuka dan mengutak atik profilnya, mencari tahu seberapa kenal aku dengan orang itu. Namun kali ini tidak, ku langsung mengklik tulisan Confirm di layar monitorku itu. Keesokan harinya, ku kembali duduk bermalas malasan di depan komputerku, berhubung memang aku lagi sedang liburan. Setelah membuka pemutar musik dan memainkan sebuah lagu, aku langsung mengatur settingan koneksi internet ke komputer, dan "perangkat terhubung" itu kata katanya. 

Www.facebook.com, begitu aku menuliskannya dengan lengkap. Beberapa detik kemudian aku sepertinya sudah berada didunia ku yang baru, namun tidak terasa begitu nyata. Walaupun terkadang ada beberapa bagian yang bisa terwujud jadi kenyataan. Ku hanya mendapati beberapa pemberitahuan baru lagi, ada yang menarik perhatianku disitu. "Cantika Purnama mengirim sesuatu di dinding anda". Dengan segera ku membuka nya, dan ku mendapati beberapa kata yang sudah lazim "Makasih kak buat confirmasinya". Ku hanya membalas singkat. Tak lama kemudian muncul lagi sebuah pemeberitahuan baru "Cantika purnama mengomentari pesan di dinding anda". Hmm, karna sedikit dorongan rasa penasaran ku mencoba membuka itu dan kali ini ku mendapati tulisan dengan komentar yang spesifik "angkatan berapa kak ?". 

Sesaat setelah membaca komentar itu, ku coba melanjutkan apa yang dia telah mulai di sebuah obrolan facebook. Entah mengapa semenjak hari itu ku memulai beberapa hari terakhir diliburan ku dengan kebiasaan yang berbeda, ON LINE. Iyya semenjak itu ku lebih sering terpaku di depan sebuah layar monitor yang kaku, menanti sapaan dari seorang gadis misterius  yang tidak begitu aku kenali siapa dia. Seminggu setelah perkenalan itu berakhir, banyak cerita yang tertumpuk bak novel baru di musim yang baru. Mengawali dengan kebiasaan lama, saling bertukar nomer handphone, kelanjutan cerita ku ternyata tak sebatas di dunia maya. Dan seperti yang sudah kukatakan tadi, bahwa terkadang ada hal yang bisa terwujudkan di dunia nyata. 

Pertanyaan dan beberapa kumpulan cerita menjadi permulaan yang cukup menarik buat ku tuk mengenal lebih jauh lagi gadis bersuara merdu ini. Suatu saat dia menelfonku, terjadi percakapan panjang kali itu, namun lebih spesifik ke dunia kampus, karna seminggu setelah berkenalan aku tahu jika dia juga mendaftar dan lulus dijurusan yang sama dengan ku. Betapa misteriusnya gadis ini fikirku. 


To Be Continued ......


*)wrote according to the true story
















"Melangkahlah Selagi Kamu Masih Mampu...

Taklukkan Dunia Dengan Apa YAng Kamu Miliki !! 


Dan Biarkan Orang Orang Mengabadikan Jejak Langkahmu ..."

*) Wednesday, 29th January 2014, Story of A Little Pen

Sajak


















Ayah, Ibu, Maafkan Aku 

Hari ini aku sudah tumbuh dewasa
Berdiri tegak siap menapaki hari hari ku ...
Hari ini aku masih sama ....
Berdiri di sebuah tempat yang jauh di matamu ...

Ku masih ingin seperti dulu ...

Di belai dan dimanja dalam hangat pelukmu ...
Ku masih ingin menjadi anak yang lucu buatmu ...
Menjadi seorang lelaki kecil ..
Yang selalu buat senyummu merekah ...

Hari ini Ayah, Ibu,

Ku tak tahu apa tentang hidupku ...
Hampir saja aku lupa masa masa kecil itu ....
Ku tak bisa lagi mengingat detailnya ....
Ku terlalu larut dalam sibuk ku tumbuh dewasa ...

Hari ini Ayah, Ibu ...

Ku tersadar betapa jauhnya aku kini ...
Jauh dari pelukmu, dari pelupuk matamu ...
Hari ini kutermanggu dengan penyesalan itu
Yang terkadang lupa kalau kalian pun bertambah tua ...

Hari ini Ayah, Ibu

Ku baru tahu jika fikirku itu salah ...
Ku bukan lagi anak kecil itu
Yang dahulu kau jaga dan kau manja ...
Ku bukan lagi anak kecil itu ...

Ayah, Ibu, kini kusudah dewasa ...

Maaf jika ku terlalu mendambakan kelucuan masa lalu ...
Maaf jika terkadang aku lupa
Kalau hari ini bukan lagi masa lalu ...
Bukan lagi waktu kecil itu ...

Ayah, Ibu, kini ku tersadar ...

Mungkin dahulu engkau yang menjaga dan memelukku...
Dan kini aku paham bahwa sebentar lagi semua akan berubah...
Aku yang harus menjaga dan memeluk kalian ...
Aku yang akan merawat kalian...

Ayah, Ibu maafkan atas semua kelalaian ini ...

Maafkan atas semua ketidak sadaran diri ini ...
Kelupaan ku akan waktu yang begitu cepat berlalu...
Ayah, Ibu, hari ini ini ku sudah dewasa
Biarkan kini aku yang gantikan posisimu yang dahulu...

*) Wednesday 29th January 2014, Story of A Little Pen